Poetra Soerabadja Tempoe Doeloe
Tersesat di kota sendiri
Friday, June 15, 2007
Tersebutlah nama Kadaruslan (75) dan Mustahid (68), Dua sesepuh kota Surabaya itu menampakkan wajah muram ketika dimintai opini mengenai Surabaya, Kota yang mereka diami semenjak berpuluh-puluh tahun silam.
Terlukis gurat-gurat kekecewaan pada mimik wajah masing-masing, mendapati Surabaya masa kini, tak lagi segagah Soerabadja Tempoe Doeloe – Sebuah kota dengan memoar tinggi akan perjuangan hidup dan mati arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kemerdekaan.
Kenangan 30 tahun silam Kadaruslan pun membayangi. Menurutnya, Kota Surabaya pada masa itu sangatlah mempunyai ciri, tidak seperti sekarang yang tak ubahnya sebagai “duplikat” negara barat.
Tilik saja pada bangunan berasitektur romawi yang terdapat di sekitar area tugu pahlawan. “Pasukan Romawi tidak ada hubungannya dengan perjuangan arek-arek Suroboyo”, desah kekecewaan Kadaruslan.
Hal serupa juga diungkap oleh Mustahid mengenai Patung Karapan Sapi di daerah Keputran. Padahal disana adalah Lokasi Pertama Pertempuran Melawan Sekutu, harusnya yang dibangun adalah monumen atau apapun yang bertujuan mengingatkan pertempuran tersebut.
Kekontrasan yang terjadi antara bangunan non-historis yang menyelusup diantara kawasan historis sepertinya dapat membahayakan keberadaan situs sejarah tersebut. Bagaimana tidak, apabila bangunan non-historis semakin diminati masyarakat akan kecanggihan maupun keelokannya, tentu saja dapat “mencuri” pamor awal situs sejarah. Jadi, nantinya tidak ada lagi yang kenal “Tugu Pahlawan”, kemungkinan akan beralih menjadi “Mall Pahlawan”-pusat perbelanjaan terlengkap di Surabaya.
Lalu bagaimana bila hal itu benar-benar terjadi? Tidakkah Surabaya akan kehilangan identitasnya sebagai kota Pahlawan?
Bukankah setiap kota mempunyai nilai dan ciri penting perlambang idealisme kota tersebut? Meskipun terdapat SK (Surat Keputusan) dari Pemkot Surabaya sehubungan dengan Cagar Budaya, hal ini tetap tidak bisa diandalkan karena seperti yang kita ketahui, hingga sekarang pun masih banyak Penggusuran Kawasan Historis.
Sekarang mari kita tanya pada hati nurani masing-masing. Maukah kita mengubah kepribadian kita dan melupakan segala masa lalu kita? Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa idealisme seseorang merupakan sisi menarik dari orang tersebut.
Mengapa kita harus repot menjadi orang lain bila diri sendiri sudah cukup baik?
Bila kita menjadi orang lain, lalu siapa yang menjadi diri kita? Mungkin seperti itulah analogi mengenai Surabaya.
Harapan ke depan, semoga Pemkot tidak egois dengan bertindak sebagai “eksekutor kawasan historis” demi mengejar pamor dan perkembangan teknologi.
ingatlah,
Tidak akan ada masa kini tanpa adanya masa lalu.
JAYALAH SURABAYA!!
posted by Andhika @ 9:38 PM,
2 Comments:
- At June 16, 2007 at 6:52 AM, abdul ghofur said...
-
adoeh, komentar saja sekarang apa nanti setelah kompetisi ja?
saja djadi terharoe pada bapak kadaruslan dan mustahid.
Maafkan kami kek! coecoe-coecoemoe ini, jang tak paham dan tak mengerti benar arti peluh dan darah kakek, djoega teman-teman kakek.
Maafkan kami.. - At June 16, 2007 at 7:09 AM, abdul ghofur said...
-
Menyamboeng komentar sebeloemnja...
"Padahal sudah menjadi rahasia umum bahwa idealisme seseorang merupakan sisi menarik dari orang tersebut...."
bagi saja, "Manusia tanpa idealisme adalah sampah (organik) peradaban". Jang perloe didaur oelang... emmmhhh...
Maaf!!!...
Daoer oelangnja biar diurus Toenas Hidjaoe sadja... djoega para pakar kebersihan dan lingkoengan...
Tentang Kami .....
Andhika Kurniawanto
(WebDeveloper & Reporter)
Andhika adalah seorang web desainer pemula yang masih dalam tahap pengembangan diri dalam mengapresiasikan idenya dalam pembuatan suatu web. Sejak kecil, dia memang sangat berbakat dalam hal mengutak atik-entah mengutak atik apa-. Sekarang dia sedang tergila gila dengan yang namanya Blogger. Meskipun ilmunya pas-pasan, dia tetap berusaha mengutak atik template yang diperolehnya hingga seperti ini.
"Mengedit template blogger ternyata begitu menyenangkan!"
Shefti L. Latiefah
(article writer)
Shefti adalah seorang jurnalis dadakan yang hobi memainkan pena semenjak SMP.karyanya memang tidak terkenal seperti Mira W. atau N.H Dini..terlalu jauh MUngkin dari level para Novelis bahkan sastrawati seperti itu. Corat-coret di notes sepertinya sudah menjadi "penyakit Jiwa" yang sulit dihilangkan. Biarpun kemana2 ga bawa duit, asalkan ada pena dan notes kecil saja, dia sudah senang sekali. Setiap hal kecil yang ada dipikirannya selalu diekspresikan lewat tulisan, baik cerpen maupun catatan yang ditulis di bungkus kue sekalipun! yang penting bisa menulis. Blog yang saat ini sedang digeluti adalah sebuah Catatan Harian tentang keluarganya yang diramu dengan bumbu2 humor sehingga bisa menjadi "Refreshment Stories" yang Recommended!
Sepercik Kisah....
Surabaya,sebuah kota yang familiar dengan sebutan Kota Pahlawan, yang telah eksis semenjak 714 tahun silam, sebutan "Kota Pahlawan" nampaknya tidak lagi menggaung dalam peradaban warga Surabaya sendiri. Artinya, Surabaya masa kini, tak ubahnya seperti Kota-kota besar lain yang mengejar ketenaran lewat perkembangan Teknologi dan Tren Dunia. Akankah Surabaya akan kehilangan jati dirinya?dengan meninggalkan ciri yang selama ini melekat erat dan sangat membumi dalam hati warga Surabaya. Gugatan dan sedikit Solusi kami tawarkan dengan dukungan artikel-artikel dari para sejarawan yang kami kutip dari Warta Berita KOMPAS serta PIKnet. Semoga dapat memberikan sedikit referensi dan pengetahuan akan keberadaan situs-situs sejarah di kota kita tercinta ini!
Kontak kami!
Cukup kirim email kamu ke:
andhikakurniawanto@yahoo.co.id
onyezshei66@yahoo.com
